Beternak kambing dapat dijalankan sebagai usaha sampingan maupun dikembangkan menjadi bisnis peternakan yang lebih serius. Namun, sebelum membeli kambing, peternak sebaiknya menghitung kebutuhan modal dan membuat analisis usaha terlebih dahulu.
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menghitung modal hanya berdasarkan harga kambing.
Misalnya, seseorang memiliki uang Rp10 juta lalu berpikir:
“Saya bisa membeli kambing sebanyak mungkin sampai uangnya habis.”
Padahal, setelah kambing dibeli masih ada kebutuhan kandang, pakan, air, kesehatan, tenaga kerja, transportasi, dan biaya tidak terduga.
Akibatnya, modal kerja bisa habis sebelum kambing menghasilkan pendapatan.
Karena itu, analisis usaha beternak kambing harus melihat seluruh siklus bisnis, mulai dari pembelian ternak sampai penjualan.
Kementerian Pertanian sendiri dalam berbagai kajian usaha kambing menggunakan komponen seperti biaya bibit, pakan, tenaga kerja, kesehatan, penerimaan, keuntungan, serta indikator kelayakan usaha seperti R/C ratio.

Artikel ini membahas cara menghitung modal dan menganalisis usaha beternak kambing dengan pendekatan yang mudah dipahami pemula.
Daftar Isi
- Apakah Beternak Kambing Menguntungkan?
- Tentukan Model Usaha Terlebih Dahulu
- Komponen Modal Beternak Kambing
- Modal Pembelian Kambing
- Biaya Membuat Kandang
- Biaya Pakan
- Biaya Kesehatan
- Biaya Tenaga Kerja
- Biaya Operasional Lainnya
- Contoh Modal Usaha 10 Ekor Kambing
- Cara Menghitung Pendapatan
- Cara Menghitung Keuntungan
- Apa Itu R/C Ratio?
- Cara Menghitung BEP
- Contoh Analisis Penggemukan Kambing
- Contoh Analisis Pembibitan Kambing
- Faktor yang Paling Mempengaruhi Keuntungan
- Kesalahan dalam Menghitung Modal
- Strategi Memulai Usaha untuk Pemula
- Kesimpulan
- FAQ
1. Apakah Beternak Kambing Menguntungkan?
Jawabannya adalah bisa menguntungkan, tetapi tidak otomatis.
Profit usaha kambing bergantung pada bagaimana peternak mengelola:
- harga pembelian ternak;
- kualitas bibit atau bakalan;
- biaya pakan;
- kesehatan;
- tingkat kematian;
- pertambahan bobot;
- reproduksi;
- harga jual;
- tenaga kerja;
- dan pasar.
Salah satu kajian Kementerian Pertanian mengenai pembibitan kambing menunjukkan bahwa pakan dapat menjadi komponen biaya yang sangat besar. Dalam contoh usaha yang dianalisis, pakan menyumbang sekitar 40,76% dari modal pembibitan, sedangkan pembelian ternak sekitar 39,05%.
Ini memberikan pelajaran penting:
Jangan menganggap harga kambing sebagai satu-satunya biaya terbesar.
Dalam usaha tertentu, justru pakan menjadi pengeluaran yang harus dikendalikan dengan sangat serius.
2. Tentukan Model Usaha Terlebih Dahulu
Sebelum menghitung modal, tentukan jenis usaha yang akan dijalankan.
Secara umum, ada dua model yang mudah dipahami pemula.
A. Penggemukan kambing
Model ini berfokus pada pembelian kambing bakalan, pemeliharaan selama periode tertentu, kemudian menjualnya setelah bobot dan kondisi tubuh meningkat.
Alurnya:
beli bakalan → pakan → perawatan → pertambahan bobot → jual.
Keunggulannya adalah siklus usaha relatif lebih pendek dibandingkan pembibitan.
Namun, keuntungan sangat bergantung pada selisih harga beli dan harga jual setelah dikurangi biaya pemeliharaan.
B. Pembibitan kambing
Pada sistem pembibitan, peternak memelihara induk dan pejantan untuk menghasilkan anak.
Alurnya:
indukan → perkawinan → kebuntingan → kelahiran → pemeliharaan anak → penjualan.
Siklusnya lebih panjang dan membutuhkan manajemen reproduksi.
Namun, peternak dapat memperoleh pendapatan dari:
- penjualan anak;
- penjualan induk atau pejantan afkir;
- kotoran;
- susu, jika jenis kambing mendukung;
- dan produk lain yang memiliki pasar.
Kementerian Pertanian pernah mempublikasikan contoh usaha pembibitan dengan empat induk betina dan satu pejantan. Kajian tersebut menunjukkan bahwa pendapatan tidak hanya berasal dari penjualan anak, tetapi juga dapat berasal dari produk samping seperti kotoran ternak.
3. Komponen Modal Beternak Kambing
Modal usaha sebaiknya dibagi menjadi dua kelompok.
Modal investasi
Modal yang digunakan untuk aset yang manfaatnya dapat digunakan dalam beberapa periode.
Contohnya:
- kandang;
- tempat pakan;
- tempat minum;
- timbangan;
- alat pencacah;
- peralatan peternakan.
Modal kerja
Modal yang digunakan untuk menjalankan kegiatan sehari-hari.
Contohnya:
- pembelian kambing;
- pakan;
- obat dan kebutuhan kesehatan;
- transportasi;
- listrik dan air;
- tenaga kerja;
- serta biaya operasional lainnya.
Pemisahan ini penting karena kandang tidak harus dibeli kembali setiap kali satu periode penggemukan selesai.
4. Modal Pembelian Kambing
Pembelian ternak biasanya menjadi salah satu komponen investasi terbesar.
Namun harga kambing sangat bervariasi.
Faktor yang memengaruhi harga antara lain:
- jenis kambing;
- umur;
- jenis kelamin;
- bobot;
- kualitas bibit;
- kondisi kesehatan;
- tujuan penggunaan;
- asal ternak;
- dan lokasi pasar.
Sebagai contoh, daftar harga produk salah satu UPT Kementerian Pertanian untuk kambing PE mencantumkan harga yang berbeda berdasarkan umur dan jenis kelamin. Kambing PE jantan umur 4–6 bulan tercantum Rp1,75 juta/ekor, sedangkan betina pada kelompok umur yang sama Rp1,3 juta/ekor dalam daftar tersebut.
Angka tersebut jangan dianggap sebagai harga pasar nasional.
Gunakan harga di daerah Anda ketika membuat perhitungan nyata.
Rumus sederhana
Modal pembelian kambing = jumlah kambing × harga per ekor
Misalnya:
10 ekor × Rp2.000.000
= Rp20.000.000
5. Biaya Membuat Kandang
Kandang merupakan investasi awal yang sering terlupakan.
Biaya kandang dapat meliputi:
- kayu atau baja ringan;
- atap;
- lantai;
- pagar;
- tempat pakan;
- tempat minum;
- saluran pembuangan;
- tempat penampungan kotoran;
- dan biaya tenaga kerja pembangunan.
Besarnya biaya tergantung apakah Anda:
- menggunakan material baru;
- memanfaatkan bahan yang tersedia;
- membangun kandang sederhana;
- atau membuat kandang permanen.
Untuk usaha kecil, kandang sederhana dapat menekan investasi awal.
Tetapi jangan menghemat dengan mengorbankan:
- keamanan;
- ventilasi;
- kebersihan;
- kekuatan struktur;
- dan kemudahan perawatan.
Kandang murah yang cepat rusak justru dapat membuat biaya jangka panjang lebih mahal.
6. Biaya Pakan
Pakan merupakan komponen yang harus diperhatikan secara serius.
Ada dua kondisi berbeda.
Jika hijauan tersedia sendiri
Biaya tunai mungkin lebih rendah.
Tetapi bukan berarti pakan gratis.
Tetap ada biaya:
- tenaga untuk mencari;
- memotong;
- mengangkut;
- menyimpan;
- dan mengolah pakan.
Jika pakan dibeli
Biaya akan lebih mudah dihitung.
Misalnya:
10 ekor × Rp5.000/ekor/hari × 90 hari
= Rp4.500.000
Angka Rp5.000 tersebut hanyalah contoh perhitungan.
Harga aktual harus menggunakan biaya pakan di daerah Anda.
Penelitian Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa perbaikan sistem pakan dapat memengaruhi efisiensi usaha kambing. Salah satu kajian menggunakan R/C ratio sebagai indikator dan menemukan perbedaan efisiensi antara perlakuan pakan.
7. Biaya Kesehatan
Sisihkan anggaran untuk:
- pemeriksaan;
- obat;
- vitamin atau mineral bila diperlukan;
- vaksinasi sesuai program;
- pengendalian parasit;
- dan kebutuhan kesehatan lain.
Jangan menunggu kambing sakit baru memikirkan biaya kesehatan.
Lebih baik membuat dana cadangan kesehatan.
Misalnya Anda menyediakan Rp500.000–Rp1.000.000 sebagai dana cadangan untuk satu siklus.
Jumlah tersebut bukan standar nasional; sesuaikan dengan skala dan kondisi peternakan.
8. Biaya Tenaga Kerja
Jika semua pekerjaan dilakukan sendiri, peternak sering menganggap biaya tenaga kerja = Rp0.
Secara kas memang mungkin tidak ada pembayaran kepada orang lain.
Namun dalam analisis bisnis, tenaga Anda tetap memiliki nilai ekonomi.
Aktivitasnya meliputi:
- mencari pakan;
- memberi makan;
- membersihkan kandang;
- memandikan atau menangani ternak;
- mengangkut bahan;
- menimbang;
- dan menjual kambing.
Kajian Kementerian Pertanian mengenai usaha pembibitan menunjukkan tenaga kerja juga dimasukkan sebagai salah satu komponen biaya usaha.
Ini penting agar Anda mengetahui apakah usaha tersebut benar-benar menguntungkan setelah waktu kerja diperhitungkan.
9. Biaya Operasional Lainnya
Jangan lupakan biaya kecil yang jika dikumpulkan bisa cukup besar.
Contohnya:
- transportasi;
- listrik;
- air;
- perawatan kandang;
- tali;
- ember;
- alat kebersihan;
- biaya pemasaran;
- biaya komunikasi;
- dan biaya tak terduga.
Buat satu pos khusus:
Biaya lain-lain / cadangan.
Misalnya 5% dari biaya operasional sebagai asumsi awal.
Namun persentase tersebut hanya contoh. Anda dapat mengubahnya berdasarkan pengalaman di peternakan.
10. Contoh Modal Usaha 10 Ekor Kambing
Sekarang kita buat simulasi sederhana.
Catatan: angka berikut adalah contoh model perhitungan, bukan patokan harga pasar Indonesia.
Misalkan Anda ingin melakukan penggemukan 10 ekor kambing.
| Komponen | Estimasi |
|---|---|
| 10 ekor bakalan @ Rp2.000.000 | Rp20.000.000 |
| Kandang sederhana | Rp5.000.000 |
| Peralatan | Rp1.000.000 |
| Pakan selama 3 bulan | Rp4.500.000 |
| Kesehatan | Rp750.000 |
| Transportasi & lain-lain | Rp750.000 |
| Total modal | Rp32.000.000 |
Dengan simulasi tersebut, modal awal yang diperlukan sekitar:
Rp32 juta.
Tetapi perlu diperhatikan bahwa kandang dan sebagian peralatan merupakan investasi yang dapat digunakan kembali pada periode berikutnya.
Jadi, jangan menganggap seluruh Rp32 juta sebagai biaya yang habis dalam satu siklus.
11. Cara Menghitung Pendapatan
Setelah mengetahui modal dan biaya, kita hitung pendapatan.
Misalnya setelah periode penggemukan:
10 kambing berhasil dijual dengan harga rata-rata Rp3.000.000/ekor.
Maka:
10 × Rp3.000.000 = Rp30.000.000
Jika ada penjualan kotoran senilai Rp500.000:
Pendapatan total = Rp30.500.000
Tetapi dari sini kita belum bisa mengatakan usaha untung.
Kita harus melihat biaya.
12. Cara Menghitung Keuntungan
Rumusnya sederhana:
Keuntungan = Total Pendapatan − Total Biaya
Misalnya:
Pendapatan = Rp30.500.000
Biaya operasional = Rp26.000.000
Maka:
Keuntungan = Rp4.500.000
Namun, jika Anda memasukkan seluruh investasi kandang sebagai biaya satu periode, hasilnya akan terlihat berbeda.
Inilah alasan pentingnya membedakan:
investasi → biaya penyusutan → biaya operasional.
Kandang tidak semestinya dibebankan seluruhnya pada satu siklus jika masih digunakan bertahun-tahun.
13. Apa Itu R/C Ratio?
R/C ratio atau Revenue Cost Ratio digunakan untuk membandingkan penerimaan dengan biaya.
Rumus:
R/C = Total Penerimaan ÷ Total Biaya
Contoh:
Penerimaan = Rp30.500.000
Total biaya = Rp26.000.000
Maka:
R/C = 30.500.000 ÷ 26.000.000
= 1,17
Interpretasi sederhananya:
- R/C > 1 → penerimaan lebih besar daripada biaya
- R/C = 1 → impas
- R/C < 1 → penerimaan lebih kecil daripada biaya
Kajian Kementerian Pertanian juga menggunakan R/C sebagai salah satu indikator efisiensi usaha kambing.
Tetapi jangan berhenti pada R/C.
Anda juga perlu melihat:
- keuntungan absolut;
- waktu pengembalian modal;
- risiko;
- kebutuhan tenaga kerja;
- dan perputaran modal.
14. Cara Menghitung BEP
BEP atau Break Even Point adalah titik ketika usaha berada pada posisi impas.
Artinya:
pendapatan = biaya.
Dalam usaha penggemukan kambing, kita dapat menghitung BEP harga.
Misalnya:
Total biaya = Rp26.000.000
Jumlah kambing = 10 ekor
Maka biaya rata-rata:
Rp26.000.000 ÷ 10 = Rp2.600.000/ekor
Jika kambing dijual di bawah angka tersebut, usaha belum menutup biaya berdasarkan asumsi yang digunakan.
Jika dijual di atasnya, terdapat ruang untuk keuntungan.
Namun, perhitungan harus memasukkan seluruh biaya yang relevan.
15. Contoh Analisis Penggemukan Kambing
Mari kita buat simulasi yang lebih realistis.
Modal pembelian
10 ekor × Rp2.000.000
= Rp20.000.000
Biaya pakan
= Rp4.500.000
Kesehatan
= Rp750.000
Transportasi dan lainnya
= Rp750.000
Penyusutan kandang/peralatan
Misalnya dialokasikan:
= Rp1.000.000
Maka total biaya periode:
Rp27.000.000
Jika seluruh kambing terjual:
10 × Rp3.000.000
= Rp30.000.000
Maka:
Keuntungan = Rp30.000.000 − Rp27.000.000
= Rp3.000.000
R/C:
Rp30.000.000 ÷ Rp27.000.000 = 1,11
Artinya secara simulasi usaha menghasilkan penerimaan lebih tinggi daripada biaya.
Tetapi margin hanya sekitar Rp3 juta.
Ini menunjukkan bahwa sedikit perubahan harga pakan atau harga jual dapat mengubah hasil usaha secara signifikan.
16. Bagaimana Jika Harga Jual Turun?
Misalnya harga jual rata-rata hanya Rp2.700.000.
Pendapatan:
10 × Rp2.700.000
= Rp27.000.000
Biaya:
Rp27.000.000
Maka:
Keuntungan = Rp0
Usaha berada pada titik impas.
Inilah alasan peternak harus melakukan simulasi sebelum membeli kambing.
Buat setidaknya tiga skenario:
Skenario optimistis
Harga jual tinggi + pertumbuhan bagus + biaya pakan terkendali.
Skenario normal
Harga dan pertumbuhan sesuai asumsi utama.
Skenario pesimistis
Harga jual turun + biaya pakan naik + terdapat risiko kesehatan.
Jika usaha hanya menguntungkan pada skenario optimistis, Anda perlu berhati-hati.
17. Contoh Analisis Pembibitan Kambing
Pembibitan memiliki cara menghitung yang berbeda.
Misalnya Anda memiliki:
4 induk betina + 1 pejantan.
Pendapatan dapat berasal dari:
- anak kambing;
- induk afkir;
- pejantan afkir;
- kotoran;
- susu jika jenis kambing menghasilkan susu dan ada pasar.
Dalam salah satu kajian Kementerian Pertanian, usaha pembibitan dengan empat induk dan satu pejantan dianalisis selama dua tahun. Kajian tersebut memasukkan pakan, vitamin, mineral, obat, tenaga kerja, penjualan anak, dan penjualan kotoran sebagai komponen analisis.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa:
Pendapatan usaha kambing tidak selalu hanya berasal dari penjualan kambing.
Produk samping juga dapat memberikan tambahan penerimaan.
18. Jangan Lupakan Nilai Kotoran Kambing
Kotoran kambing dapat menjadi produk samping yang memiliki nilai ekonomi jika terdapat pasar.
Bisa dijual sebagai:
- pupuk kandang;
- bahan kompos;
- atau bahan organik untuk pertanian.
Pada contoh usaha kambing yang dipublikasikan Kementerian Pertanian, penjualan kotoran juga dimasukkan sebagai komponen pendapatan.
Namun, jangan memasukkan pendapatan kotoran dengan harga yang tidak realistis.
Gunakan harga lokal.
19. Faktor yang Paling Mempengaruhi Keuntungan
Ada beberapa faktor yang biasanya sangat menentukan.
1. Harga beli
Semakin baik Anda mendapatkan bakalan dengan harga wajar dan kualitas bagus, semakin besar peluang margin.
2. Pakan
Efisiensi pakan sangat penting.
3. Pertambahan bobot
Kambing yang tumbuh lebih cepat dapat memperpendek siklus pemeliharaan.
4. Tingkat kematian
Kematian ternak dapat langsung menggerus modal.
5. Harga jual
Pasar menentukan berapa besar nilai yang dapat diperoleh.
6. Lama pemeliharaan
Semakin lama kambing dipelihara, semakin banyak biaya yang berjalan.
7. Tenaga kerja
Jika skala meningkat, kebutuhan tenaga kerja dapat bertambah.
20. Strategi Agar Modal Beternak Kambing Lebih Efisien
Mulai dari skala yang bisa dikontrol
Jangan langsung membeli 50 ekor jika belum pernah mengelola 5–10 ekor.
Bangun kandang sesuai kebutuhan
Jangan membuat kandang terlalu besar sebelum mengetahui kapasitas usaha.
Manfaatkan sumber pakan lokal
Hijauan yang tersedia di sekitar peternakan dapat membantu mengurangi biaya pakan, tetapi tetap hitung nilai tenaga dan transportasinya.
Catat semua pengeluaran
Termasuk pengeluaran kecil.
Timbang kambing
Data bobot membantu mengevaluasi performa.
Cari pasar sebelum panen
Jangan menunggu kambing siap jual baru mencari pembeli.
Jangan bergantung pada satu pembeli
Bangun beberapa saluran penjualan.
21. Kapan Modal Beternak Kambing Bisa Kembali?
Ini disebut Payback Period.
Misalnya modal yang benar-benar harus dikembalikan:
Rp30.000.000
Jika rata-rata keuntungan bersih:
Rp5.000.000 per siklus
dan satu siklus berlangsung 3 bulan, maka secara sederhana:
Rp30 juta ÷ Rp5 juta = 6 siklus
Jika satu siklus 3 bulan:
6 × 3 = 18 bulan
Jadi estimasi pengembalian modal sekitar 18 bulan.
Namun, ini hanya simulasi sederhana.
Perhitungan sebenarnya harus mempertimbangkan:
- investasi awal;
- arus kas;
- nilai aset yang masih tersisa;
- perubahan harga;
- dan reinvestasi.
22. Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Analisis Usaha
Menggunakan harga internet tanpa mengecek pasar lokal
Harga kambing berbeda antar daerah.
Menganggap hijauan gratis
Tenaga dan transportasi tetap memiliki biaya.
Tidak menghitung kematian
Dalam usaha ternak, risiko biologis harus diperhitungkan.
Tidak memasukkan tenaga sendiri
Ini membuat keuntungan terlihat terlalu tinggi.
Menganggap semua anak kambing pasti lahir sesuai target
Reproduksi memiliki variasi dan risiko.
Tidak menghitung penyusutan kandang
Kandang memiliki umur ekonomis.
Menganggap harga jual selalu naik
Pasar dapat berubah.
Hanya menghitung keuntungan per ekor
Keuntungan harus dilihat bersama waktu dan modal yang digunakan.
23. Apakah Usaha Kambing Cocok untuk Pemula?
Bisa, terutama jika dimulai secara bertahap.
Pemula dapat memilih skala kecil agar bisa mempelajari:
- pemilihan bibit;
- pakan;
- kandang;
- kesehatan;
- pencatatan;
- pemasaran;
- dan perhitungan usaha.
Setelah sistem berjalan baik, skala dapat ditingkatkan.
Yang penting bukan seberapa banyak kambing yang dibeli pada awal usaha.
Yang lebih penting adalah:
seberapa baik Anda dapat mengendalikan biaya dan menghasilkan penjualan.
24. Checklist Sebelum Mengeluarkan Modal
Sebelum membeli kambing, pastikan Anda sudah mengetahui:
- Harga kambing di daerah
- Jenis kambing yang akan dipelihara
- Tujuan usaha
- Jumlah kambing
- Harga kandang
- Sumber pakan
- Biaya pakan
- Biaya kesehatan
- Biaya tenaga kerja
- Target harga jual
- Calon pembeli
- Lama satu siklus
- Modal cadangan
- Skenario jika harga turun
- Skenario jika biaya pakan naik
Jika sebagian besar pertanyaan tersebut belum memiliki jawaban, sebaiknya jangan buru-buru membeli kambing.
Kesimpulan
Modal dan analisis usaha beternak kambing harus dihitung berdasarkan kondisi nyata di lapangan, bukan hanya berdasarkan harga kambing.
Komponen yang perlu diperhitungkan mencakup:
pembelian ternak + kandang + pakan + kesehatan + tenaga kerja + transportasi + biaya lain-lain.
Setelah itu hitung:
pendapatan → keuntungan → R/C ratio → BEP → payback period.
Usaha penggemukan dan pembibitan juga mempunyai karakter ekonomi yang berbeda. Penggemukan lebih berfokus pada pertambahan bobot dan perputaran modal, sedangkan pembibitan membutuhkan perhatian lebih besar terhadap reproduksi, produktivitas induk, dan nilai keturunan.
Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa pakan dapat menjadi komponen biaya yang sangat besar dalam usaha pembibitan, sehingga efisiensi pakan perlu menjadi salah satu perhatian utama peternak.
Pada akhirnya, usaha kambing yang bagus bukan usaha yang memiliki kambing paling banyak, melainkan usaha yang mampu menghasilkan margin sehat dengan biaya yang terkendali dan risiko yang dapat dikelola.
Mulailah dengan skala yang sesuai kemampuan, catat semua transaksi, evaluasi setiap periode, dan gunakan data tersebut untuk menentukan apakah usaha layak diperbesar.
FAQ Modal dan Usaha Beternak Kambing
Berapa modal awal untuk beternak kambing?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua peternak. Modal bergantung pada jumlah kambing, jenis ternak, harga lokal, kandang, pakan, dan model usaha. Untuk simulasi kecil, buat perhitungan berdasarkan harga aktual di daerah Anda.
Apakah beternak kambing menguntungkan?
Bisa, tetapi keuntungan tergantung pada harga beli, biaya pakan, kesehatan, pertambahan bobot atau reproduksi, dan harga jual.
Lebih menguntungkan penggemukan atau pembibitan?
Keduanya memiliki karakter berbeda. Penggemukan biasanya memiliki siklus lebih pendek, sedangkan pembibitan memiliki potensi pendapatan dari anak dan aset indukan tetapi membutuhkan manajemen reproduksi.
Berapa ekor kambing sebaiknya dipelihara pemula?
Tidak ada angka mutlak. Mulailah dengan jumlah yang dapat Anda kelola dari sisi modal, pakan, kandang, waktu, dan kesehatan ternak.
Apa biaya terbesar dalam usaha kambing?
Tergantung model usaha. Pakan dan pembelian ternak dapat menjadi komponen utama. Dalam salah satu kajian pembibitan Kementan, pakan menyumbang sekitar 40,76% dan pembelian ternak sekitar 39,05% dari modal.
Apa itu R/C ratio?
R/C ratio adalah perbandingan total penerimaan dengan total biaya. Nilai di atas 1 menunjukkan penerimaan lebih besar daripada biaya dalam perhitungan tersebut.
Apa itu BEP usaha kambing?
BEP adalah titik impas ketika penerimaan sama dengan biaya. Dalam usaha kambing, BEP dapat dihitung berdasarkan harga jual, jumlah ternak, atau volume penjualan.
Apakah kotoran kambing bisa menghasilkan uang?
Bisa jika ada pasar. Kotoran dapat dijual sebagai pupuk atau bahan kompos. Dalam beberapa analisis usaha Kementerian Pertanian, penjualan kotoran juga dihitung sebagai penerimaan tambahan.