Pakan fermentasi untuk sapi dapat menjadi salah satu solusi bagi peternak yang menghadapi keterbatasan hijauan, terutama ketika musim kemarau. Teknologi fermentasi juga dapat membantu memanfaatkan bahan yang sebelumnya kurang optimal sebagai pakan, seperti jerami padi dan berbagai limbah pertanian.
Namun, pakan fermentasi bukan berarti semua bahan cukup dicampur dengan probiotik lalu langsung diberikan kepada sapi. Jenis bahan, kadar air, proses fermentasi, kepadatan, kondisi penyimpanan, dan kualitas hasil akhir harus diperhatikan.
Jerami padi, misalnya, memiliki nilai nutrisi dan kecernaan yang lebih rendah dibandingkan banyak hijauan berkualitas sehingga memerlukan pengolahan dan sering kali tetap membutuhkan pakan pelengkap untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sapi.

Artikel ini membahas cara membuat pakan fermentasi untuk sapi dengan pendekatan praktis yang dapat dipahami peternak pemula maupun peternak yang ingin meningkatkan efisiensi biaya pakan.
Daftar Isi
- Apa Itu Pakan Fermentasi?
- Mengapa Pakan Sapi Perlu Difermentasi?
- Manfaat Pakan Fermentasi
- Bahan yang Bisa Difermentasi
- Apakah Jerami Cocok untuk Fermentasi?
- Perbedaan Fermentasi dan Silase
- Prinsip Dasar Fermentasi Pakan
- Bahan yang Dibutuhkan
- Peralatan yang Perlu Disiapkan
- Cara Membuat Pakan Fermentasi dari Jerami
- Langkah 1: Menyiapkan Jerami
- Langkah 2: Mencacah Bahan
- Langkah 3: Menyiapkan Larutan Fermentasi
- Langkah 4: Membasahi Bahan
- Langkah 5: Menyusun Bahan
- Langkah 6: Memadatkan
- Langkah 7: Menutup Rapat
- Lama Proses Fermentasi
- Ciri Fermentasi yang Berhasil
- Ciri Pakan Fermentasi yang Gagal
- Cara Membuka Fermentasi
- Cara Mengangin-anginkan
- Cara Memberikan kepada Sapi
- Apakah Pakan Fermentasi Bisa Menjadi Pakan Utama?
- Pentingnya Pakan Tambahan
- Contoh Takaran untuk 100 kg Jerami
- Contoh Skala 500 kg
- Contoh Skala 1 Ton
- Cara Menyimpan Pakan Fermentasi
- Kesalahan yang Sering Terjadi
- Pakan Fermentasi untuk Musim Kemarau
- Cara Menghemat Biaya Pakan
- Keamanan Pakan Fermentasi
- Kesimpulan
- FAQ
1. Apa Itu Pakan Fermentasi?
Pakan fermentasi adalah bahan pakan yang mengalami proses biologis dengan bantuan mikroorganisme tertentu sehingga karakteristik bahan berubah.
Dalam peternakan sapi, teknologi ini dapat digunakan untuk mengolah bahan berserat seperti:
- jerami padi;
- jerami jagung;
- rumput;
- berbagai hijauan;
- dan bahan pertanian tertentu.
Salah satu bentuk pengawetan pakan melalui fermentasi adalah silase.
Silase merupakan pakan berkadar air relatif tinggi yang diawetkan melalui fermentasi dalam kondisi minim oksigen atau anaerob. Prinsip utamanya adalah menciptakan kondisi yang mendukung fermentasi dan penurunan pH sehingga aktivitas mikroorganisme pembusuk dapat ditekan.
2. Mengapa Pakan Sapi Perlu Difermentasi?
Salah satu persoalan peternakan sapi di Indonesia adalah ketersediaan pakan yang tidak selalu stabil sepanjang tahun.
Saat musim hujan, rumput biasanya lebih mudah diperoleh.
Sebaliknya, ketika musim kemarau, peternak dapat mengalami kesulitan memperoleh hijauan segar.
Padahal limbah pertanian seperti jerami tersedia dalam jumlah besar.
Masalahnya, jerami padi memiliki kualitas nutrisi dan kecernaan yang relatif rendah. Karena itu, diperlukan teknologi pengolahan agar pemanfaatannya sebagai pakan dapat lebih optimal.
Fermentasi dapat menjadi salah satu alternatif.
3. Manfaat Pakan Fermentasi
Jika dilakukan dengan benar, pengolahan fermentasi dapat membantu peternak:
Mengawetkan bahan pakan
Bahan dapat disimpan untuk digunakan ketika hijauan sulit diperoleh.
Memanfaatkan limbah pertanian
Jerami tidak harus dibakar atau dibiarkan membusuk.
Mengurangi ketergantungan pada rumput segar
Terutama pada musim kemarau.
Memudahkan pengelolaan stok
Peternak dapat membuat cadangan pakan sebelum musim paceklik.
Meningkatkan pemanfaatan bahan berserat
Beberapa teknologi pengolahan biologis dapat membantu meningkatkan kualitas dan daya cerna bahan berserat.
Namun perlu ditekankan:
Fermentasi bukan berarti semua nutrisi bahan otomatis menjadi tinggi.
Pakan fermentasi tetap harus menjadi bagian dari ransum yang seimbang.
4. Bahan yang Bisa Difermentasi
Bahan yang digunakan harus aman untuk ternak.
Beberapa bahan yang dapat digunakan antara lain:
- jerami padi;
- jerami jagung;
- rumput;
- daun atau hijauan tertentu;
- hasil samping pertanian yang aman;
- dan campuran bahan berserat lainnya.
Jerami padi merupakan salah satu bahan yang banyak dikaji untuk diolah menjadi pakan sapi. Kementerian Pertanian juga memiliki publikasi khusus mengenai teknologi silase dan fermentasi jerami padi untuk sapi potong.
5. Apakah Jerami Cocok untuk Fermentasi?
Ya, jerami padi dapat diolah melalui berbagai metode.
Namun jangan menganggap jerami fermentasi sama kualitasnya dengan rumput berkualitas tinggi.
Jerami mempunyai kandungan protein yang relatif rendah dan struktur serat yang membuat kecernaannya lebih rendah. Karena itu, pengolahan saja tidak selalu cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi sapi.
Dalam praktik, jerami fermentasi dapat dipadukan dengan:
- hijauan;
- konsentrat;
- sumber protein;
- mineral;
- dan air minum.
6. Perbedaan Fermentasi dan Silase
Istilah fermentasi dan silase sering digunakan secara bergantian, padahal tekniknya dapat berbeda.
Fermentasi jerami
Dapat dilakukan dengan metode tertentu menggunakan inokulum atau bahan tambahan, dan tidak selalu menggunakan kondisi anaerob seperti silase.
Silase
Mengandalkan fermentasi dalam kondisi minim oksigen dan biasanya disimpan dalam wadah atau silo yang kedap udara.
Silase yang baik umumnya mempunyai karakter:
- aroma asam yang khas;
- tidak berlendir;
- tidak berjamur;
- warna relatif masih menyerupai bahan asal;
- dan mempunyai pH rendah.
Untuk artikel ini, istilah pakan fermentasi digunakan secara umum, sedangkan metode yang dijelaskan berfokus pada pengolahan bahan berserat seperti jerami.
7. Prinsip Dasar Fermentasi Pakan
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
Bahan harus bersih
Jangan menggunakan bahan yang tercampur:
- tanah;
- plastik;
- logam;
- pestisida;
- atau bahan berbahaya lainnya.
Kadar air harus sesuai
Terlalu kering dapat menghambat proses.
Terlalu basah dapat meningkatkan risiko pembusukan.
Mikroorganisme harus mendapatkan kondisi yang sesuai
Karena itu, pencampuran dan penyimpanan harus dilakukan sesuai metode.
Hindari kontaminasi
Jamur atau mikroorganisme yang tidak diinginkan dapat merusak pakan.
8. Bahan yang Dibutuhkan
Untuk contoh sederhana, bahan yang dapat disiapkan antara lain:
- jerami padi;
- sumber karbohidrat seperti molases atau dedak;
- inokulum/probiotik pakan yang sesuai;
- air bersih;
- dan bahan pelengkap lain sesuai formulasi.
Salah satu modul agribisnis pakan Kementan mencantumkan bahan kaya karbohidrat seperti molases, dedak, menir, atau onggok sebagai bahan tambahan dalam pembuatan silase, dengan contoh penggunaan sekitar 3% dari bahan silase.
Namun, takaran bukan sesuatu yang boleh disamaratakan untuk semua metode dan produk inokulum. Ikuti petunjuk pada produk yang digunakan.
9. Peralatan yang Perlu Disiapkan
Peralatannya relatif sederhana:
- mesin pencacah atau parang;
- ember;
- terpal;
- alat penyiram;
- wadah pencampur;
- plastik tebal atau drum;
- tali;
- timbangan;
- dan sarung tangan.
Untuk skala lebih besar, peternak dapat menggunakan:
- chopper;
- silo;
- drum;
- mesin pencampur;
- dan alat pemadat.
10. Cara Membuat Pakan Fermentasi dari Jerami
Berikut alur sederhana:
Jerami → cacah → atur kelembapan → campur bahan fermentasi → susun → padatkan → tutup → simpan → periksa → berikan kepada sapi.
Kunci keberhasilan bukan hanya bahan tambahan.
Proses dan kondisi penyimpanan sama pentingnya.
11. Langkah 1: Menyiapkan Jerami
Pilih jerami yang:
- relatif bersih;
- tidak busuk;
- tidak tercemar;
- tidak berjamur;
- dan tidak tercampur benda asing.
Jerami yang sudah berjamur atau berbau busuk sebaiknya tidak digunakan.
12. Langkah 2: Mencacah Bahan
Jerami sebaiknya dicacah menjadi potongan yang lebih pendek.
Sebagai contoh, beberapa teknologi pengolahan jerami menggunakan ukuran sekitar 2–5 cm. Ukuran tersebut membantu proses pencampuran, pemadatan, dan konsumsi oleh ternak.
Pencacahan juga membuat bahan lebih mudah ditangani.
13. Langkah 3: Menyiapkan Larutan Fermentasi
Siapkan:
air bersih + sumber karbohidrat + inokulum/probiotik sesuai petunjuk produk.
Jangan mencampurkan produk fermentasi berdasarkan perkiraan jika label sudah memberikan dosis khusus.
Setiap produk dapat mempunyai:
- jenis mikroorganisme berbeda;
- konsentrasi berbeda;
- dan aturan penggunaan berbeda.
Karena itu:
ikuti dosis pada label produk yang digunakan.
14. Langkah 4: Membasahi Bahan
Larutan fermentasi kemudian diaplikasikan secara merata ke jerami.
Jangan menuangkan terlalu banyak pada satu titik.
Gunakan metode:
semprot/percik → aduk → semprot/percik → aduk.
Tujuannya agar kelembapan merata.
Dalam salah satu teknologi fermentasi jerami jagung, kadar air sekitar 60% digunakan sebagai kondisi proses.
Untuk metode yang berbeda, target kadar air dapat berbeda pula.
15. Bagaimana Mengetahui Kelembapan Secara Sederhana?
Jika tidak memiliki alat pengukur kadar air, peternak dapat melakukan pemeriksaan sederhana.
Ambil segenggam bahan.
Remas kuat-kuat.
Bahan seharusnya:
- terasa lembap;
- tidak terlalu kering;
- tetapi air tidak mengalir deras ketika diremas.
Metode ini hanya perkiraan lapangan, bukan pengganti pengukuran kadar air menggunakan alat.
16. Langkah 5: Menyusun Bahan
Setelah larutan tercampur:
- bentangkan terpal;
- letakkan lapisan jerami;
- percikkan larutan;
- aduk sampai merata;
- tambahkan lapisan berikutnya;
- ulangi proses.
Hindari membuat satu bagian sangat basah sementara bagian lainnya kering.
Fermentasi yang tidak merata dapat menghasilkan kualitas yang tidak konsisten.
17. Langkah 6: Memadatkan
Setelah bahan dimasukkan ke tempat penyimpanan, padatkan.
Tujuannya:
mengurangi udara di antara bahan.
Pada pembuatan silase, kondisi anaerob sangat penting.
Karena itu, bahan perlu:
- dipadatkan;
- ditutup;
- dan dijaga agar tidak kemasukan udara.
18. Langkah 7: Menutup Rapat
Gunakan plastik yang cukup kuat.
Pastikan:
- tidak bocor;
- tidak berlubang;
- tidak mudah terbuka;
- dan tidak terkena hujan langsung.
Jika menggunakan drum atau silo, pastikan penutup benar-benar rapat.
Semakin banyak udara masuk, semakin tinggi risiko proses berubah menjadi pembusukan atau pertumbuhan mikroorganisme yang tidak diinginkan.
19. Berapa Lama Fermentasi Pakan Sapi?
Lama fermentasi tergantung:
- jenis bahan;
- metode;
- inokulum;
- kadar air;
- suhu;
- dan sistem penyimpanan.
Beberapa teknologi silase menggunakan masa penyimpanan sekitar 20 hari, sedangkan teknologi fermentasi jerami lainnya menggunakan sekitar 21 hari.
Ada pula metode fermentasi jerami tertentu yang menggunakan sekitar 7 hari.
Jadi jangan menggunakan prinsip:
“Semua pakan fermentasi harus tujuh hari.”
Tidak benar.
Ikuti metode yang digunakan.
20. Ciri Pakan Fermentasi yang Berhasil
Ciri dapat berbeda menurut metode, tetapi untuk silase yang baik umumnya:
- mempunyai aroma asam yang khas;
- tidak berbau busuk;
- tidak berlendir;
- tidak ditumbuhi jamur yang tidak diinginkan;
- tekstur masih dapat dikenali;
- dan warna relatif tidak berubah drastis.
Materi nutrisi dan pakan Kementan mencantumkan aroma asam, warna hijau kecokelatan, tekstur yang masih jelas, serta kondisi tanpa jamur dan lendir sebagai beberapa ciri silase yang baik.
21. Ciri Pakan Fermentasi yang Gagal
Hati-hati jika ditemukan:
- bau busuk menyengat;
- lendir berlebihan;
- warna hitam atau perubahan ekstrem;
- jamur berlebihan;
- bahan terasa panas secara tidak wajar;
- atau terdapat tanda pembusukan.
Jangan mengambil risiko dengan memberikan pakan yang kualitasnya meragukan.
22. Apakah Sedikit Jamur Boleh?
Untuk peternak pemula, prinsip paling aman adalah:
jangan memberikan pakan fermentasi yang menunjukkan pertumbuhan jamur yang tidak diinginkan.
Beberapa perubahan warna atau permukaan dapat terjadi tergantung metode, tetapi jamur yang jelas, bau menyimpang, dan tanda pembusukan merupakan alasan kuat untuk tidak menggunakan bahan tersebut.
Risiko mikotoksin tidak layak diabaikan.
23. Cara Membuka Pakan Fermentasi
Jangan membuka seluruh stok sekaligus jika tidak langsung digunakan.
Ambil sesuai kebutuhan.
Setelah sebagian bahan dikeluarkan:
tutup kembali secepat mungkin.
Tujuannya mengurangi kontak dengan udara.
Untuk sistem silase, paparan udara setelah pembukaan dapat meningkatkan risiko kerusakan bahan.
24. Pakan Fermentasi Sebaiknya Diangin-anginkan?
Untuk beberapa metode fermentasi jerami yang dilakukan secara terbuka, materi teknis Kementan menyarankan pakan yang sudah matang diangin-anginkan sebelum diberikan.
Namun jangan menerapkan prosedur ini secara otomatis kepada semua jenis silase.
Ikuti petunjuk metode yang digunakan.
Silase yang dibuat dalam kondisi anaerob biasanya diberikan dengan prosedur yang berbeda.
25. Cara Memberikan Pakan Fermentasi kepada Sapi
Jangan langsung mengganti seluruh ransum sapi dengan pakan fermentasi dalam satu hari.
Lakukan adaptasi.
Contohnya:
Hari awal
Pakan fermentasi diberikan dalam jumlah kecil bersama pakan yang biasa dikonsumsi.
Berikutnya
Jumlahnya dapat ditingkatkan secara bertahap jika sapi menerimanya dengan baik.
Setelah adaptasi
Pakan fermentasi dapat menjadi bagian lebih besar dari ransum sesuai formulasi.
Tujuannya agar sistem pencernaan sapi dapat beradaptasi dengan perubahan pakan.
26. Apakah Pakan Fermentasi Bisa Menjadi Pakan Utama?
Jawabannya:
tergantung bahan dan kualitas fermentasinya.
Jika menggunakan jerami padi fermentasi, jangan langsung menganggap jerami tersebut mampu memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi sapi.
Jerami padi mempunyai keterbatasan nutrisi sehingga sering membutuhkan kombinasi dengan bahan pakan lain.
Jadi lebih tepat melihat pakan fermentasi sebagai:
salah satu komponen ransum.
27. Pentingnya Pakan Tambahan
Untuk sapi penggemukan, peternak dapat membutuhkan sumber nutrisi tambahan seperti:
- konsentrat;
- sumber protein;
- mineral;
- dan bahan pakan lain.
Penelitian di Lampung terhadap sapi PO pada musim kemarau, misalnya, menguji beberapa kombinasi jerami fermentasi atau rumput dengan konsentrat dan menunjukkan bahwa hasil pertambahan bobot berbeda antarperlakuan.
Artinya, jenis pakan fermentasi saja tidak cukup untuk menentukan performa sapi.
Komposisi seluruh ransum jauh lebih penting.
28. Contoh Takaran untuk 100 Kg Jerami
Sebagai ilustrasi, kita dapat membuat skema sederhana:
100 kg jerami
sumber karbohidrat sesuai metode
inokulum sesuai label
air secukupnya untuk mencapai kelembapan target
Kemudian:
cacah → campur → padatkan → tutup → fermentasikan.
Jika menggunakan molases atau dedak sebagai sumber karbohidrat dalam metode silase tertentu, salah satu modul Kementan memberikan contoh sekitar 3% dari bahan silase.
Namun angka tersebut tidak boleh dianggap sebagai resep universal.
29. Contoh Jika Menggunakan 100 Kg Bahan
Misalnya metode yang digunakan menetapkan:
molases 3%
Maka:
100 × 3%
= 3 kg molases
Jika menggunakan:
dedak 3%
maka:
100 × 3%
= 3 kg dedak
Tetapi jangan otomatis menggunakan keduanya sekaligus.
Ikuti formula metode yang dipilih.
30. Contoh Skala 500 Kg
Jika bahan dasar:
500 kg jerami
dan metode menggunakan bahan tambahan 3%:
500 × 3%
= 15 kg
Jadi bahan tambahan tersebut sekitar:
15 kg
jika memang formula metode yang digunakan menetapkan 3%.
31. Contoh Skala 1 Ton
Untuk:
1.000 kg jerami
dengan formula 3%:
1.000 × 3%
= 30 kg
Jadi:
30 kg bahan tambahan
untuk formula yang memang menggunakan tingkat 3%.
Sekali lagi, peternak harus memeriksa metode dan produk yang digunakan.
32. Jangan Meniru Takaran Probiotik dari Internet
Ini penting.
Takaran probiotik tidak selalu sama.
Produk A mungkin:
1 ml/kg
Produk B mungkin:
2 ml/kg
Produk C mungkin menggunakan dosis berdasarkan volume air.
Karena konsentrasi produk berbeda, jangan menganggap semua probiotik mempunyai dosis yang sama.
Baca label.
33. Cara Menyimpan Pakan Fermentasi
Tempat penyimpanan harus:
- teduh;
- tidak terkena hujan;
- tidak terkena matahari langsung;
- bersih;
- aman dari tikus;
- dan terlindung dari benda tajam.
Jika plastik bocor, segera periksa dan perbaiki sistem penyimpanan.
34. Jangan Simpan di Tempat yang Terkena Banjir
Pakan fermentasi harus terlindung dari:
- air hujan;
- genangan;
- lumpur;
- dan kontaminasi.
Jika wadah terendam, kualitas pakan dapat berubah dan keamanan bahan harus dievaluasi kembali.
35. Berapa Lama Pakan Fermentasi Bisa Disimpan?
Lama penyimpanan sangat tergantung pada:
- metode;
- kadar air;
- kualitas bahan;
- wadah;
- keberhasilan fermentasi;
- dan kondisi penyimpanan.
Beberapa metode jerami fermentasi yang dipublikasikan Kementan menyebut penyimpanan dapat berlangsung hingga sekitar satu tahun jika proses dan penyimpanannya benar.
Namun angka tersebut tidak boleh digunakan sebagai jaminan untuk semua produk fermentasi.
Kualitas harus diperiksa setiap kali pakan akan digunakan.
36. Pakan Fermentasi untuk Musim Kemarau
Salah satu strategi yang baik adalah membuat cadangan sebelum musim kemarau.
Misalnya peternak mempunyai:
10 ekor sapi
dan kebutuhan pakan fermentasi:
10 kg/ekor/hari
Maka kebutuhan:
10 × 10
= 100 kg/hari
Untuk 30 hari:
100 × 30
= 3.000 kg
atau:
3 ton.
Dengan mengetahui angka tersebut, peternak dapat merencanakan produksi sejak jauh hari.
37. Cara Menghitung Stok Pakan
Rumus sederhana:
Kebutuhan stok = kebutuhan per ekor × jumlah sapi × jumlah hari
Contoh:
20 kg/ekor/hari
× 10 sapi
× 60 hari
= 12.000 kg
atau:
12 ton.
Ini baru berat bahan segar.
Untuk formulasi nutrisi, kandungan bahan kering juga harus diperhitungkan.
38. Pakan Fermentasi untuk Penggemukan Sapi
Pada usaha penggemukan, tujuan utama adalah menghasilkan pertambahan bobot yang ekonomis.
Karena itu, pakan fermentasi harus dievaluasi berdasarkan:
- konsumsi;
- PBBH;
- kondisi tubuh;
- biaya pakan;
- dan harga jual.
Penelitian di Lampung menunjukkan bahwa kombinasi jerami fermentasi dan konsentrat menghasilkan respons pertambahan bobot yang berbeda menurut level konsentrat.
Jadi:
lebih banyak pakan fermentasi belum tentu lebih baik.
Yang penting adalah keseimbangan ransum.
39. Apakah Fermentasi Membuat Sapi Cepat Gemuk?
Tidak otomatis.
Fermentasi dapat membantu meningkatkan pemanfaatan bahan tertentu, tetapi pertambahan bobot sapi tetap dipengaruhi oleh:
- genetik;
- jumlah konsumsi;
- kualitas nutrisi;
- protein;
- energi;
- kesehatan;
- air;
- dan manajemen.
Sebuah kajian Kementan tentang jerami fermentasi melaporkan peningkatan nilai nutrisi dibandingkan jerami tanpa fermentasi dan mencatat respons PBBH tertentu pada sapi Bali, tetapi hasil tersebut merupakan hasil pada kondisi penelitian, bukan angka yang otomatis berlaku untuk semua peternakan.
40. Kesalahan Pertama: Bahan Terlalu Basah
Jika air terlalu banyak:
- bahan sulit diawetkan;
- risiko pembusukan meningkat;
- bau dapat menyimpang;
- dan proses tidak berjalan sesuai harapan.
Karena itu, jangan menuangkan air sebanyak-banyaknya dengan asumsi:
“Semakin basah semakin cepat fermentasi.”
41. Kesalahan Kedua: Bahan Terlalu Kering
Sebaliknya, bahan yang terlalu kering juga dapat membuat proses tidak optimal.
Karena itu, kadar air perlu dikontrol sesuai metode.
Untuk produksi komersial atau skala besar, penggunaan alat pengukur kadar air dapat meningkatkan konsistensi.
42. Kesalahan Ketiga: Tidak Dipadatkan
Pada silase, udara merupakan salah satu musuh utama.
Jika bahan terlalu longgar:
udara banyak → proses anaerob terganggu → risiko kerusakan meningkat.
Karena itu, pemadatan menjadi langkah penting.
43. Kesalahan Keempat: Plastik Bocor
Lubang kecil pun dapat menjadi jalan masuk udara.
Periksa:
- sambungan;
- sudut plastik;
- bagian bawah;
- dan penutup.
Jauhkan dari benda tajam dan tikus.
44. Kesalahan Kelima: Langsung Diberikan dalam Jumlah Banyak
Sapi yang belum pernah mengonsumsi pakan fermentasi perlu beradaptasi.
Perubahan ransum secara tiba-tiba dapat mengganggu konsumsi dan pencernaan.
Mulailah bertahap.
45. Kesalahan Keenam: Menganggap Fermentasi Menggantikan Semua Pakan
Ini salah satu kesalahan terbesar.
Fermentasi bukan cara untuk menghilangkan kebutuhan nutrisi lain.
Jika bahan dasar mempunyai protein rendah, fermentasi tidak otomatis membuat kandungan protein menjadi cukup untuk semua tujuan produksi.
Ransum tetap harus memenuhi kebutuhan sapi.
46. Kesalahan Ketujuh: Menggunakan Bahan Berjamur
Jangan menggunakan:
- jerami berjamur;
- bahan busuk;
- bahan terkena bahan kimia;
- atau bahan yang tidak diketahui asalnya.
Fermentasi seharusnya dimulai dari bahan yang layak, bukan bahan rusak.
47. Kesalahan Kedelapan: Tidak Memeriksa Hasil Akhir
Setelah fermentasi selesai, jangan langsung memberikan kepada sapi.
Periksa:
- aroma;
- warna;
- tekstur;
- jamur;
- lendir;
- dan kondisi keseluruhan.
Jika hasilnya mencurigakan:
jangan diberikan kepada ternak.
48. Cara Mengetahui Fermentasi Berhasil Secara Lebih Akurat
Untuk produksi skala besar, pemeriksaan sederhana dapat dilengkapi dengan:
- pengukuran pH;
- pengukuran bahan kering;
- analisis protein;
- analisis serat;
- dan pemeriksaan laboratorium bila diperlukan.
Pada silase yang baik, pH yang rendah merupakan salah satu indikator penting. Buku ajar nutrisi Kementan mencantumkan pH sekitar 3,5–4 sebagai karakteristik silase yang baik.
49. Mengapa pH Penting?
Fermentasi yang berjalan baik menghasilkan asam organik, terutama asam laktat, yang membantu menurunkan pH.
Kondisi asam tersebut membantu menghambat mikroorganisme pembusuk.
Karena itu, pada silase:
pH rendah + kondisi anaerob
merupakan bagian penting dari proses pengawetan.
50. Fermentasi Jerami Jagung
Selain jerami padi, jerami jagung juga dapat diolah.
Salah satu teknologi yang dipublikasikan Kementan menggunakan:
- pencacahan 2–5 cm;
- pengaturan kadar air;
- penambahan probiotik;
- bahan tambahan tertentu;
- pemadatan;
- dan fermentasi sekitar 21 hari.
Ini menunjukkan bahwa metode fermentasi dapat disesuaikan dengan jenis bahan.
51. Jangan Menyamakan Jerami Padi dan Jerami Jagung
Keduanya sama-sama limbah tanaman, tetapi:
- struktur;
- kadar air;
- kandungan nutrisi;
- dan karakter serat
dapat berbeda.
Karena itu, formula fermentasinya tidak harus sama.
52. Pakan Fermentasi Berbasis Rumput
Rumput juga dapat diawetkan melalui teknologi silase.
Prinsipnya:
rumput → cacah → atur kadar air → masukkan ke wadah → padatkan → tutup → fermentasi.
Silase hijauan merupakan salah satu teknologi untuk menyimpan kelebihan produksi hijauan pada saat pertumbuhannya melimpah.
53. Keuntungan Membuat Fermentasi Saat Hijauan Melimpah
Ketika musim hujan:
rumput banyak.
Jangan hanya berpikir:
“Bagaimana menghabiskannya hari ini?”
Pikirkan:
“Bagaimana menyimpan kelebihan rumput untuk bulan-bulan berikutnya?”
Dengan begitu, produksi pakan tidak berhenti ketika kondisi lingkungan berubah.
54. Cara Menghemat Biaya Pakan dengan Fermentasi
Fermentasi dapat membantu efisiensi apabila bahan baku tersedia murah atau bahkan berasal dari lahan sendiri.
Namun tetap hitung:
- biaya tenaga kerja;
- probiotik;
- molases;
- plastik;
- pencacahan;
- transportasi;
- dan penyimpanan.
Bandingkan:
biaya pakan fermentasi/kg
dengan:
harga hijauan yang dibeli/kg.
55. Jangan Menghitung Jerami sebagai “Gratis”
Walaupun jerami berasal dari sawah sendiri, tetap ada biaya:
- pengumpulan;
- pengangkutan;
- pencacahan;
- pengolahan;
- tenaga kerja;
- dan penyimpanan.
Dengan menghitung biaya tersebut, peternak bisa mengetahui apakah teknologi fermentasi benar-benar menguntungkan.
56. Contoh Analisis Sederhana
Misalnya:
Bahan jerami:
Rp100/kg
Biaya pengolahan:
Rp50/kg
Bahan tambahan:
Rp75/kg
Kemasan dan penyimpanan:
Rp25/kg
Total:
Rp250/kg
Jika hijauan alternatif di daerah Anda berharga:
Rp500/kg
maka fermentasi terlihat menarik.
Tetapi tetap perlu membandingkan nilai nutrisi, bukan hanya harga per kilogram.
57. Bandingkan Berdasarkan Bahan Kering
Misalnya:
Pakan A:
Rp250/kg
BK:
30%
Pakan B:
Rp400/kg
BK:
50%
Harga per kg BK:
Pakan A
250 ÷ 0,30
= Rp833/kg BK
Pakan B
400 ÷ 0,50
= Rp800/kg BK
Walaupun Pakan B lebih mahal per kilogram segar, biaya per kilogram bahan kering justru lebih rendah.
Inilah mengapa analisis pakan harus mempertimbangkan BK, bukan hanya harga per kilogram segar.
58. Kapan Pakan Fermentasi Tidak Cocok?
Tidak semua kondisi harus menggunakan fermentasi.
Jika:
- hijauan berkualitas tersedia sepanjang tahun;
- biaya pengolahan lebih mahal;
- tenaga kerja terbatas;
- tidak ada tempat penyimpanan;
- atau kualitas hasil fermentasi tidak konsisten,
peternak perlu menghitung ulang manfaat ekonominya.
Teknologi harus digunakan jika memang menyelesaikan masalah.
59. Pakan Fermentasi sebagai Strategi Cadangan
Menurut saya, salah satu penggunaan paling menarik adalah menjadikan fermentasi sebagai bank pakan.
Contohnya:
musim hujan → produksi stok
musim kemarau → gunakan stok
Dengan strategi ini, peternak tidak terlalu bergantung pada kondisi rumput harian.
60. Kesimpulan
Cara membuat pakan fermentasi untuk sapi pada dasarnya dimulai dari pemilihan bahan yang aman, pencacahan, pengaturan kadar air, penambahan bahan fermentasi sesuai metode, pencampuran merata, pemadatan, penutupan, dan penyimpanan hingga proses selesai.
Untuk bahan seperti jerami padi, fermentasi dapat menjadi salah satu teknologi untuk meningkatkan pemanfaatannya sebagai sumber pakan berserat. Kementerian Pertanian telah menerbitkan berbagai teknologi terkait fermentasi dan silase jerami untuk sapi potong.
Namun ada satu hal yang sangat penting:
Pakan fermentasi bukan pengganti prinsip nutrisi.
Jerami fermentasi tetap harus dinilai berdasarkan kualitasnya dan dikombinasikan dengan sumber nutrisi lain apabila diperlukan.
Peternak juga tidak boleh terpaku pada satu resep.
Jenis bahan, kadar air, inokulum, metode, suhu, dan sistem penyimpanan dapat memengaruhi hasil fermentasi.
Untuk pemula, alur yang paling mudah diingat adalah:
Pilih bahan yang aman
↓
Cacah
↓
Atur kelembapan
↓
Tambahkan inokulum sesuai petunjuk
↓
Campur merata
↓
Padatkan
↓
Tutup rapat
↓
Fermentasikan sesuai metode
↓
Periksa kualitas
↓
Adaptasikan kepada sapi secara bertahap
Jika proses dilakukan dengan benar, teknologi fermentasi dapat membantu peternak mengubah bahan yang sebelumnya kurang termanfaatkan menjadi cadangan pakan yang lebih mudah dikelola, terutama untuk menghadapi periode kekurangan hijauan.
Yang paling penting, jangan hanya bertanya:
“Bagaimana membuat sapi mau makan pakan fermentasi?”
Tetapi tanyakan juga:
“Apakah pakan tersebut aman, memenuhi kebutuhan nutrisi sapi, dan menghasilkan pertambahan bobot yang ekonomis?”
Itulah ukuran keberhasilan yang sebenarnya.
FAQ Pakan Fermentasi untuk Sapi
Apa bahan terbaik untuk pakan fermentasi sapi?
Tidak ada satu bahan yang selalu paling baik. Jerami padi, jerami jagung, rumput, dan beberapa hijauan dapat diolah dengan metode yang sesuai. Pilihan tergantung ketersediaan bahan, tujuan pemeliharaan, dan kualitas nutrisi.
Apakah jerami padi bisa difermentasi?
Bisa. Jerami padi merupakan salah satu bahan yang banyak digunakan dalam teknologi fermentasi dan silase untuk sapi.
Berapa lama fermentasi jerami sapi?
Tergantung metode. Beberapa teknologi menggunakan sekitar 7 hari, sementara metode silase atau fermentasi lain dapat membutuhkan sekitar 20–21 hari.
Apakah pakan fermentasi bisa diberikan setiap hari?
Bisa menjadi bagian dari ransum harian jika kualitasnya baik dan komposisi ransum memenuhi kebutuhan sapi. Pemberiannya sebaiknya melalui proses adaptasi.
Apakah pakan fermentasi bisa membuat sapi cepat gemuk?
Pakan fermentasi sendiri tidak menjamin sapi cepat gemuk. Pertumbuhan dipengaruhi oleh total konsumsi nutrisi, protein, energi, genetik, kesehatan, air, dan manajemen.
Apakah pakan fermentasi harus dicampur konsentrat?
Tidak selalu dalam jumlah yang sama, tetapi bahan seperti jerami umumnya memiliki keterbatasan nutrisi sehingga dapat membutuhkan pakan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sapi.
Bagaimana ciri pakan fermentasi yang bagus?
Tergantung metode, tetapi pada silase yang baik umumnya terdapat aroma asam khas, tidak berlendir, tidak menunjukkan jamur yang tidak diinginkan, dan mempunyai karakteristik fermentasi yang baik.
Apakah pakan fermentasi yang berjamur boleh diberikan?
Sebaiknya jangan mengambil risiko. Pakan yang menunjukkan jamur berlebihan, bau busuk, atau tanda pembusukan sebaiknya tidak diberikan kepada sapi.
Berapa banyak probiotik yang digunakan?
Ikuti dosis pada produk yang digunakan. Konsentrasi dan petunjuk penggunaan setiap produk dapat berbeda.
Apakah jerami fermentasi bisa disimpan lama?
Beberapa metode dapat menghasilkan pakan yang dapat disimpan berbulan-bulan jika proses dan penyimpanannya benar. Salah satu materi Kementan bahkan menyebut penyimpanan hingga sekitar satu tahun untuk metode tertentu.