Biaya pakan mencakup sekitar 60% hingga 70% dari total pengeluaran operasional peternakan sapi. Ketergantungan pada rumput segar sering kali menimbulkan kendala serius, terutama saat musim kemarau panjang ketika pasokan hijauan menipis drastis. Fermentasi pakan (silase atau jerami fermentasi) menjadi solusi teknologi tepat guna yang memungkinkan peternak mengawetkan pakan, melunakkan serat kasar, serta meningkatkan kecernaan nutrisi di dalam rumen sapi.

Bagi peternak pemula, teknik fermentasi anaerob (tanpa udara) dapat dipraktikkan dengan peralatan sederhana, bahan baku limbah pertanian lokal, dan starter mikroba yang mudah didapat.
1. Prinsip Dasar dan Manfaat Fermentasi Pakan Sapi
Fermentasi pakan bekerja dengan memanfaatkan bakteri asam laktat untuk memecah struktur lignin, selulosa, dan hemiselulosa yang keras pada limbah pertanian menjadi senyawa sederhana yang mudah diserap saluran pencernaan sapi.
ALUR PERUBAHAN NUTRISI DALAM FERMENTASI
│
┌──────────────────────────────┴──────────────────────────────┐
│ │
▼ ▼
BAHAN SERAT KASAR TINGGI PRODUK FERMENTASI MATANG
- Struktur lignin keras, sulit dicerna - Struktur lunak, serat mudah terurai
- Protein kasar rendah (3-5%) - Nilai protein meningkat (8-12%)
- Cepat membusuk jika disimpan basah - Daya simpan 6-12 bulan dalam silo kedap
- Manfaat Utama bagi Peternak:
- Efisiensi Tenaga Kerja: Mengurangi rutinitas mencari rumput (ngarit) setiap hari; peternak cukup membuat pakan dalam jumlah besar sekaligus untuk stok berbulan-bulan.
- Peningkatan Palatabilitas: Menghasilkan aroma asam manis khas yang sangat disukai ternak sehingga pakan habis tanpa sisa.
- Penyelamat Musim Kemarau: Menjamin ketersediaan bank pakan berkualitas saat hijauan segar langka di lapangan.
- Kotoran Kandang Tidak Berbau: Fermentasi yang sempurna memaksimalkan penyerapan nutrisi di lambung sehingga kotoran (feses) sapi tidak berbau menyengat.
2. Formulasi Bahan Pembuatan Pakan Fermentasi (Skala 100 kg)
Formula dasar ini menggunakan kombinasi limbah pertanian kering (jerami/tebon jagung) atau hijauan segar berproduksi tinggi:
| Bahan Baku | Fungsi & Peran | Takaran (Total 100 kg) |
| Bahan Serat Utama (Jerami Padi / Tebon Jagung / Rumput Odot) | Sumber serat kasar dan pengisi rumen (bulk feed) | 80 – 85 kg |
| Dedak Padi Halus (Bekatul) / Onggok | Sumber karbohidrat terlarut sebagai makanan bakteri | 10 – 12 kg |
| Tetes Tebu (Molase) / Gula Merah Cair | Sumber energi cepat pemacu perkembangbiakan mikroba | 1 – 2 liter |
| Probiotik / Starter Fermentasi (EM4 Peternakan / Mikroba Lokal) | Inokulan bakteri pengurai selulosa (Lactobacillus) | 100 – 200 ml |
| Air Bersih | Media pelarut larutan starter | 5 – 10 liter (sesuaikan kadar air) |
3. Langkah-Langkah Pembuatan Pakan Fermentasi secara Rinci
Kunci mutlak keberhasilan fermentasi terletak pada pencacahan, pengaturan kadar air, dan pemadatan kedap udara (anaerob).
1.Pencacahan Bahan Baku (Chopping):Ukuran ideal 3-5 cm.
Cacah jerami padi, tebon jagung, atau rumput hijauan menggunakan mesin pencacah (chopper) atau parang. Pencacahan mempermudah proses pemadatan dan memperluas permukaan kontak bagi mikroba pengurai. Jika menggunakan rumput segar, layukan di tempat teduh selama 6–12 jam untuk menurunkan kadar air berlebih.
2.Pelarutan Cairan Starter Mikroba:Aktifkan bakteri 15 menit sebelum digunakan.
Campurkan molase/tetes tebu (1 – 2 liter) dan probiotik (100 – 200 ml) ke dalam ember berisi air bersih. Aduk hingga larut sempurna dan diamkan selama 10–15 menit agar mikroba aktif.
3.Pencampuran Rata Bahan Kering & Larutan:Jaga kadar air pada rentang 55-60%.
Hamparkan cacahan bahan serat di atas terpal bersih. Taburkan dedak padi secara merata di atasnya. Siramkan larutan starter secara perlahan menggunakan gembor air sambil diaduk bolak-balik hingga seluruh bahan tercampur homogen.
Uji Kepalan Tangan: Remas segenggam adonan pakan. Fermentasi ideal ditandai saat adonan menggumpal padat ketika dikepal, tidak meneteskan air dari sela jari, dan langsung merekah perlahan saat kepalan tangan dibuka.
4.Pemadatan dan Penyimpanan Kedap Udara:Pastikan tidak ada rongga oksigen tersisa.
Masukkan campuran bahan ke dalam wadah drum plastik (silo), tong biru bertutup klem, atau kantong plastik tebal (polyethylene). Injak-injak atau tekan adonan sepadat mungkin lapis demi lapis untuk membuang seluruh udara di sela-sela pakan. Kunci drum atau ikat plastik rapat-rapat hingga kedap udara.
5.Pemeraman (Masa Inkubasi):Simpan di ruangan teduh bebas matahari langsung.
Simpan drum/plastik di tempat yang kering dan teduh. Proses fermentasi berlangsung selama 14 hingga 21 hari. Jangan membuka wadah selama masa pemeraman berlangsung.
4. Ciri-Ciri Pakan Fermentasi yang Berhasil vs Gagal
Sebelum diberikan kepada ternak, selalu periksa kualitas fisik pakan:
INDIKATOR KUALITAS PAKAN FERMENTASI
│
┌──────────────────────────────┴──────────────────────────────┐
│ │
▼ ▼
FERMENTASI BERHASIL (SIAP PAKAI) FERMENTASI GAGAL (BUANG)
- Aroma asam manis wangi (seperti tape) - Bau busuk menyengat, tengik, atau amonia
- Warna kuning kecokelatan segar - Warna hitam pekat atau gosong
- Tekstur lunak, tidak berlendir - Berlendir basah dan lengket di tangan
- Jamur putih halus tipis (aman) - Tumbuh jamur hijau kehitaman / berulat
5. Prosedur Pemberian Pakan Fermentasi ke Sapi
Sistem pencernaan sapi membutuhkan waktu adaptasi terhadap pakan fermentasi:
- Proses Angin-Anginkan (Aerasi): Ambil pakan fermentasi secukupnya dari dalam drum, lalu segera tutup kembali wadah hingga rapat. Angin-anginkan pakan selama 15–30 menit sebelum disajikan agar aroma gas asam menguap.
- Fase Pengenalan Bertahap (3–5 Hari Pertama): Jangan langsung mengganti 100% ransum dengan pakan fermentasi. Campurkan pakan fermentasi 20% dengan rumput segar di hari pertama, lalu naikkan porsinya secara bertahap hingga sapi terbiasa dan melahapnya secara penuh.
- Kombinasi Konsentrat: Untuk sapi penggemukan (fattening), tetap imbangi pakan fermentasi dengan komboran konsentrat penguat berprotein tinggi agar target pertambahan bobot harian tercapai maksimal.
Dengan menguasai teknik fermentasi pakan sederhana ini, peternak pemula tidak hanya mampu memangkas biaya operasional pakan harian, tetapi juga menciptakan sistem peternakan mandiri yang tahan terhadap krisis pakan di segala musim.