Cara Membuat Pakan Fermentasi untuk Kambing: Panduan Praktis untuk Pemula

Ketersediaan pakan sering menjadi salah satu tantangan terbesar dalam beternak kambing. Pada musim hujan, hijauan biasanya lebih mudah ditemukan. Namun ketika musim kemarau datang, jumlah dan kualitas hijauan dapat menurun sehingga peternak harus mencari cara agar persediaan pakan tetap tersedia.

Salah satu solusi yang dapat digunakan adalah pakan fermentasi.

Pakan fermentasi memungkinkan bahan pakan tertentu, termasuk hijauan dan beberapa hasil samping pertanian, diolah menjadi pakan yang lebih mudah disimpan. Salah satu bentuk yang umum digunakan adalah silase, yaitu pakan yang diawetkan melalui proses fermentasi dalam kondisi minim oksigen atau anaerob.

Namun, fermentasi bukan berarti semua bahan langsung menjadi lebih bergizi hanya karena dicampur dengan starter.

Kualitas hasil akhirnya sangat bergantung pada bahan yang digunakan, kadar air, proses pencacahan, pencampuran, kepadatan, dan keberhasilan menjaga kondisi anaerob.

Karena itu, penting memahami prosesnya sebelum mulai membuat dalam jumlah besar.


Daftar Isi

  1. Apa Itu Pakan Fermentasi untuk Kambing?
  2. Apa Manfaat Pakan Fermentasi?
  3. Bahan yang Bisa Difermentasi
  4. Bahan yang Tidak Boleh Digunakan Sembarangan
  5. Peralatan yang Dibutuhkan
  6. Contoh Formula Pakan Fermentasi
  7. Cara Membuat Pakan Fermentasi untuk Kambing
  8. Cara Menentukan Kadar Air
  9. Mengapa Wadah Harus Kedap Udara?
  10. Berapa Lama Proses Fermentasi?
  11. Ciri Pakan Fermentasi yang Berhasil
  12. Ciri Fermentasi yang Gagal
  13. Cara Memberikan Pakan Fermentasi kepada Kambing
  14. Apakah Pakan Fermentasi Bisa Menggantikan Rumput?
  15. Kesalahan yang Sering Dilakukan
  16. Cara Menyimpan Pakan Fermentasi
  17. Tips Membuat Fermentasi dalam Jumlah Besar
  18. Kesimpulan
  19. FAQ

1. Apa Itu Pakan Fermentasi untuk Kambing?

Pakan fermentasi adalah bahan pakan yang mengalami proses biologis dengan bantuan mikroorganisme tertentu sehingga bahan tersebut dapat diawetkan atau karakteristiknya berubah.

Salah satu metode yang paling dikenal dalam peternakan ruminansia adalah ensilase atau pembuatan silase.

Pada proses ini, bahan pakan disimpan dalam kondisi minim oksigen sehingga mikroorganisme yang sesuai dapat melakukan fermentasi. Fermentasi menghasilkan kondisi asam yang membantu mengawetkan bahan.

Secara sederhana, prinsipnya adalah:

bahan pakan → dicacah → disesuaikan kadar air → dicampur bahan pendukung/starter bila diperlukan → dipadatkan → dibuat kedap udara → difermentasi → disimpan.

Kunci proses tersebut adalah mengurangi keberadaan oksigen.

Jika udara terus masuk ke dalam wadah, proses pengawetan dapat terganggu dan bahan lebih mudah mengalami kerusakan.


2. Apa Manfaat Pakan Fermentasi?

Pembuatan pakan fermentasi mempunyai beberapa manfaat bagi peternak.

1. Membantu menyediakan cadangan pakan

Hijauan yang melimpah pada waktu tertentu dapat diawetkan untuk digunakan ketika ketersediaannya menurun.

Teknologi silase memang dikembangkan salah satunya untuk mengatasi perbedaan ketersediaan hijauan antara musim hujan dan musim kemarau.

2. Memanfaatkan bahan lokal

Peternak dapat memanfaatkan beberapa bahan pertanian atau perkebunan yang sesuai sebagai bahan pakan.

Contohnya dapat berupa:

  • rumput;
  • tebon jagung;
  • jerami tertentu;
  • gedebog pisang;
  • limbah sayuran yang aman;
  • atau bahan lain yang memang layak untuk ternak.

3. Memperpanjang masa simpan

Dalam kondisi anaerob yang baik, bahan silase dapat disimpan lebih lama dibandingkan hijauan segar biasa.

4. Mengurangi pemborosan bahan pakan

Bahan pertanian yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi sumber pakan.

5. Membantu menghemat tenaga

Jika peternak mempunyai stok silase, tidak perlu setiap hari mencari seluruh kebutuhan hijauan segar dari awal.


3. Bahan yang Bisa Difermentasi

Tidak semua bahan harus digunakan sekaligus.

Pilih bahan berdasarkan:

  • ketersediaan;
  • nilai nutrisi;
  • keamanan untuk kambing;
  • kadar air;
  • biaya;
  • dan tujuan pemberian.

Rumput

Rumput dapat digunakan sebagai bahan utama silase.

Rumput perlu dicacah agar lebih mudah dipadatkan dan menghasilkan struktur yang lebih seragam.

Tebon jagung

Tebon jagung merupakan salah satu bahan yang dapat diawetkan menggunakan metode silase.

Sumber Kementerian Pertanian menyebut hijauan seperti tebon jagung dan berbagai limbah pertanian dapat digunakan sebagai bahan silase.

Gedebog pisang

Gedebog pisang juga dapat diolah sebagai bahan pakan fermentasi.

Balai Veteriner Subang, Kementerian Pertanian, pernah mempublikasikan contoh pengolahan gedebog pisang menggunakan bahan tambahan seperti dedak/bekatul, gula, garam, tetes, dan EM4.

Namun, formula tersebut sebaiknya dianggap sebagai contoh metode, bukan satu-satunya resep yang wajib digunakan.

Limbah sayuran

Limbah sayuran tertentu juga dapat difermentasi untuk dimanfaatkan sebagai bahan pakan kambing. Penelitian/pengkajian di Lampung menunjukkan penggunaan limbah sayuran hasil fermentasi sebagai bagian dari teknologi pakan untuk kambing.


4. Bahan yang Tidak Boleh Digunakan Sembarangan

Ini bagian yang sangat penting.

Tidak semua limbah pertanian aman untuk difermentasi dan diberikan kepada kambing.

Jangan menggunakan bahan yang:

  • berjamur;
  • membusuk;
  • tercemar bahan kimia;
  • terkena pestisida secara tidak aman;
  • tercampur plastik;
  • tercampur logam;
  • mengandung benda tajam;
  • atau tidak diketahui keamanannya.

Fermentasi bukan proses yang otomatis membuat bahan berbahaya menjadi aman.

Jika bahan awal sudah rusak atau terkontaminasi, jangan berharap fermentasi akan selalu memperbaikinya.


5. Peralatan yang Dibutuhkan

Untuk skala rumah tangga, peralatan yang diperlukan sebenarnya cukup sederhana.

Siapkan:

  • pisau atau mesin pencacah;
  • timbangan;
  • ember atau wadah pencampur;
  • terpal;
  • wadah fermentasi;
  • plastik tebal;
  • sarung tangan;
  • dan alat untuk memadatkan bahan.

Wadah dapat berupa:

  • drum plastik;
  • kantong plastik tebal;
  • silo;
  • atau wadah lain yang dapat ditutup rapat.

Prinsip terpenting bukan bentuk wadahnya, melainkan kemampuan wadah tersebut menjaga kondisi kedap udara selama proses fermentasi.


6. Contoh Formula Pakan Fermentasi

Untuk pemula, saya menyarankan jangan langsung membuat ratusan kilogram.

Cobalah membuat batch kecil terlebih dahulu.

Sebagai contoh sederhana, Anda dapat menggunakan:

Bahan utama

  • 50 kg rumput atau bahan hijauan yang sesuai
  • 5 kg dedak/bekatul
  • sumber karbohidrat/starter sesuai metode yang dipilih
  • air secukupnya jika diperlukan untuk membantu pencampuran

Formula tersebut bukan formulasi ransum lengkap untuk semua kebutuhan kambing.

Tujuannya adalah memberikan contoh struktur bahan fermentasi.

Jika Anda ingin membuat pakan lengkap untuk penggemukan, komposisi harus dihitung berdasarkan kebutuhan nutrisi kambing dan kualitas bahan yang tersedia.

Pada teknologi silase komplit, misalnya, bahan dapat mencakup sumber serat, energi, protein, mineral, dan vitamin, lalu seluruhnya dicampur sebelum difermentasi.


7. Cara Membuat Pakan Fermentasi untuk Kambing

Berikut langkah praktis yang dapat digunakan sebagai dasar.

Langkah 1 — Pilih bahan yang berkualitas

Gunakan bahan yang:

  • masih layak;
  • tidak berjamur;
  • tidak membusuk;
  • tidak tercemar;
  • dan aman untuk kambing.

Semakin baik bahan awal, semakin besar peluang menghasilkan fermentasi yang baik.


Langkah 2 — Cacah bahan

Potong rumput atau bahan hijauan menjadi ukuran yang lebih kecil.

Pencacahan membantu:

  • memperkecil ukuran bahan;
  • mempermudah pencampuran;
  • meningkatkan kepadatan;
  • dan mengurangi ruang udara di antara bahan.

Ukuran cacahan tidak harus sama persis untuk setiap jenis bahan, tetapi usahakan cukup kecil agar bahan mudah dipadatkan.


Langkah 3 — Periksa kadar air

Ini salah satu bagian paling penting dalam pembuatan silase.

Bahan yang terlalu basah dapat menghasilkan silase yang buruk, sedangkan bahan terlalu kering dapat menyulitkan proses fermentasi.

Materi Kementerian Pertanian mengenai silase menyebut kisaran bahan kering sekitar 30–35%, yang berarti kadar air bahan berada sekitar 65–70%, sebagai kondisi yang sesuai untuk proses ensilase.

Jadi, jangan hanya memperhatikan jumlah bahan.

Kondisi fisiknya juga harus diperhatikan.


8. Cara Sederhana Mengecek Kelembapan

Jika Anda belum memiliki alat pengukur kadar air, pemeriksaan sederhana dapat digunakan sebagai perkiraan awal.

Ambil segenggam bahan yang sudah dicacah lalu remas cukup kuat.

Jika bahan:

  • terlalu basah;
  • air banyak keluar;
  • atau teksturnya sangat lembek,

kemungkinan kadar airnya terlalu tinggi.

Sebaliknya, jika bahan sangat kering dan mudah tercerai-berai, proses ensilase dapat lebih sulit.

Metode ini hanya perkiraan praktis, bukan pengganti pengukuran kadar air secara laboratorium.


9. Siapkan Bahan Tambahan

Tergantung bahan utama dan metode yang digunakan, fermentasi dapat dibantu dengan sumber karbohidrat mudah difermentasi seperti:

  • molases/tetes;
  • dedak;
  • onggok;
  • tepung jagung;
  • atau bahan lain yang sesuai.

Sumber Kementerian Pertanian menjelaskan bahwa bahan seperti tetes, dedak, onggok, dan jagung dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat yang mudah dicerna dalam proses silase.

Starter mikroba juga dapat digunakan dalam metode tertentu.

Materi terbaru mengenai silase komplit dari Kementerian Pertanian, misalnya, menyebut inokulan seperti Lactobacillus plantarum atau EM4 dapat digunakan pada dosis tertentu dalam formulasi tersebut.

Namun:

jangan menganggap semakin banyak starter berarti semakin bagus.

Gunakan sesuai petunjuk produk atau formula teknis yang menjadi acuan.


10. Campurkan Semua Bahan

Setelah bahan dicacah:

  1. Hamparkan bahan di atas terpal.
  2. Tambahkan bahan tambahan sesuai formula.
  3. Campurkan secara merata.
  4. Pastikan tidak ada bagian yang terlalu basah atau terlalu kering.
  5. Jika menggunakan larutan starter, semprotkan secara merata sambil bahan diaduk.

Tujuannya adalah membuat seluruh bagian bahan memperoleh kondisi yang relatif seragam.


11. Masukkan ke Wadah Fermentasi

Masukkan campuran sedikit demi sedikit ke dalam drum atau plastik.

Setiap kali memasukkan bahan:

padatkan.

Jangan hanya menuangkan bahan lalu menutup wadah.

Udara yang terperangkap di antara bahan dapat mengganggu proses ensilase.

Padatkan hingga ruang udara seminimal mungkin.

Materi teknologi silase Kementerian Pertanian juga menekankan bahwa bahan perlu dimasukkan ke wadah kedap udara dan dipadatkan untuk mengeluarkan udara.


12. Tutup Serapat Mungkin

Setelah wadah penuh:

  • tekan bahan;
  • keluarkan udara sebanyak mungkin;
  • tutup plastik;
  • ikat atau segel;
  • pastikan tidak ada kebocoran.

Kedap udara adalah kunci.

Jika plastik bocor dan udara terus masuk, proses pengawetan dapat terganggu.


13. Berapa Lama Fermentasi?

Lamanya proses tergantung metode dan bahan.

Untuk silase tertentu, sumber Kementerian Pertanian memberikan contoh fermentasi sekitar 21–30 hari.

Namun, ada metode bahan tertentu yang menggunakan waktu lebih singkat. Contohnya, publikasi Balai Veteriner Subang mengenai fermentasi gedebog pisang menyebut fermentasi selama 5 hari untuk metode yang mereka uraikan.

Artinya:

Tidak ada satu angka waktu yang cocok untuk semua resep fermentasi.

Jangan menyamakan fermentasi gedebog pisang dengan silase rumput atau silase pakan komplit.

Ikuti waktu yang sesuai dengan metode dan bahan yang digunakan.


14. Ciri Pakan Fermentasi yang Berhasil

Setelah masa fermentasi selesai, buka wadah dan periksa kondisinya.

Silase yang baik umumnya mempunyai karakteristik:

  • aroma fermentasi yang khas dan tidak menyengat busuk;
  • warna relatif sesuai bahan fermentasi;
  • tidak berlendir secara berlebihan;
  • tidak ditumbuhi jamur;
  • teksturnya masih dapat dikenali;
  • dan tidak menunjukkan tanda pembusukan.

Aroma asam khas fermentasi dapat muncul karena terbentuknya asam selama proses ensilase.


15. Ciri Fermentasi yang Gagal

Jangan memberikan bahan kepada kambing jika ditemukan tanda-tanda kerusakan.

Waspadai:

Bau busuk menyengat

Berbeda dengan aroma asam fermentasi yang normal.

Jamur

Jika terdapat pertumbuhan jamur yang jelas, jangan mengambil risiko dengan memberikannya kepada ternak.

Bahan berlendir berlebihan

Tekstur yang sangat berlendir dapat menunjukkan proses fermentasi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Warna sangat berubah dan mencurigakan

Perubahan warna ekstrem disertai bau buruk merupakan tanda yang patut dicurigai.

Ada bagian yang membusuk

Jangan menganggap bagian yang terlihat baik otomatis aman jika seluruh wadah sudah mengalami kerusakan.

Lebih baik membuang pakan fermentasi yang mencurigakan daripada mempertaruhkan kesehatan kambing.


16. Cara Memberikan Pakan Fermentasi kepada Kambing

Jangan langsung memberikan pakan fermentasi dalam jumlah besar kepada kambing yang sebelumnya tidak terbiasa.

Mulailah dengan jumlah kecil dan lakukan adaptasi secara bertahap.

Amati:

  • nafsu makan;
  • kondisi kotoran;
  • perilaku;
  • konsumsi air;
  • dan kondisi tubuh.

Pakan fermentasi juga sebaiknya tidak dianggap sebagai satu-satunya makanan tanpa memperhitungkan kebutuhan nutrisi kambing.

Kebutuhan ransum bergantung pada:

  • umur;
  • bobot badan;
  • tujuan pemeliharaan;
  • pertumbuhan;
  • kebuntingan;
  • laktasi;
  • dan kualitas bahan pakan.

17. Apakah Pakan Fermentasi Bisa Menggantikan Rumput?

Jawabannya:

tergantung jenis dan formulasi pakan.

Silase dapat menjadi sumber hijauan atau serat dalam ransum, tetapi tidak semua pakan fermentasi merupakan ransum lengkap.

Sebuah penelitian Kementerian Pertanian pada kambing Boerka, misalnya, menguji silase ampas sagu sebagai bagian dari pakan basal dan menunjukkan potensinya sebagai sumber serat alternatif. Namun penelitian tersebut menggunakan formulasi ransum yang terukur, bukan sekadar memberikan bahan fermentasi secara tunggal.

Ini merupakan perbedaan penting.

Pakan fermentasi ≠ otomatis pakan lengkap.


18. Pakan Fermentasi untuk Penggemukan Kambing

Jika tujuan Anda adalah penggemukan, jangan hanya mengejar pakan yang membuat kambing kenyang.

Targetnya adalah:

pertambahan bobot + kesehatan + efisiensi biaya.

Ransum perlu menyediakan nutrisi yang sesuai untuk pertumbuhan.

Sumber protein, energi, serat, mineral, dan vitamin perlu dipertimbangkan.

Dalam penelitian silase ampas sagu pada kambing Boerka, misalnya, perlakuan pakan dibuat dengan kandungan protein dan energi yang ditentukan terlebih dahulu.

Jadi untuk usaha penggemukan yang serius, sebaiknya formulasi pakan tidak hanya berdasarkan “resep internet”.


19. Cara Menyimpan Pakan Fermentasi

Setelah fermentasi selesai, jangan langsung membuka seluruh wadah jika belum akan digunakan.

Semakin sering wadah dibuka, semakin banyak udara yang masuk.

Simpan wadah:

  • di tempat teduh;
  • tidak terkena hujan;
  • tidak terkena sinar matahari langsung;
  • tidak mudah bocor;
  • dan terlindung dari hewan pengerat.

Setelah wadah dibuka, ambil sesuai kebutuhan kemudian tutup kembali dengan baik.


20. Berapa Lama Pakan Fermentasi Bisa Disimpan?

Tidak ada satu masa simpan yang berlaku untuk semua produk.

Daya simpan dipengaruhi oleh:

  • kadar air;
  • kualitas fermentasi;
  • bahan;
  • tingkat kepadatan;
  • kualitas wadah;
  • kondisi anaerob;
  • suhu penyimpanan;
  • dan seberapa sering wadah dibuka.

Dalam kondisi anaerob yang baik, silase dapat digunakan sebagai stok pakan dalam jangka lebih panjang. Sumber Kementerian Pertanian bahkan mencatat bahwa silase dapat digunakan sebagai cadangan pakan ketika produksi hijauan berlebih.


21. Kesalahan yang Sering Dilakukan

1. Menggunakan bahan yang sudah berjamur

Jangan lakukan ini.

Fermentasi bukan cara untuk “menyelamatkan” pakan yang sudah rusak.

2. Bahan terlalu basah

Kelebihan air dapat mengganggu kualitas fermentasi.

3. Bahan terlalu kering

Proses pemadatan dan fermentasi dapat menjadi lebih sulit.

4. Tidak mencacah bahan

Bahan terlalu panjang dapat menyulitkan pencampuran dan pemadatan.

5. Tidak memadatkan

Udara yang tertinggal dapat mengganggu kondisi anaerob.

6. Wadah bocor

Ini salah satu penyebab kegagalan yang paling sering terjadi.

7. Terlalu banyak starter

Lebih banyak bukan berarti lebih baik.

8. Membuka wadah terlalu sering

Setiap pembukaan memasukkan udara.

9. Langsung memberikan dalam jumlah besar

Kambing perlu beradaptasi terhadap perubahan pakan.

10. Menganggap fermentasi sebagai pengganti semua nutrisi

Ransum tetap harus memenuhi kebutuhan kambing.


22. Tips Membuat Pakan Fermentasi dalam Jumlah Besar

Jika Anda sudah berhasil membuat batch kecil, barulah pertimbangkan meningkatkan kapasitas.

Buat standar bahan

Gunakan komposisi bahan yang relatif konsisten.

Timbang bahan

Jangan mengandalkan perkiraan visual untuk produksi komersial.

Catat setiap batch

Catat:

  • tanggal pembuatan;
  • bahan;
  • berat;
  • starter;
  • kadar air jika diketahui;
  • tanggal mulai fermentasi;
  • tanggal dibuka;
  • hasil pengamatan.

Gunakan label

Contoh:

Batch 01 — Rumput + Dedak — 21 Agustus 2026

Dengan cara ini Anda dapat mengetahui batch mana yang menghasilkan kualitas terbaik.


23. Contoh Alur Pembuatan Sederhana

Jika diringkas:

Pilih bahan

Bersihkan

Cacah

Periksa kadar air

Tambahkan bahan pendukung/starter sesuai formula

Campur merata

Masukkan ke wadah

Padatkan

Keluarkan udara

Tutup rapat

Fermentasikan sesuai metode

Periksa kualitas

Berikan secara bertahap

Alur sederhana ini dapat dijadikan SOP dasar di kandang.


24. Apakah EM4 Wajib Digunakan?

Tidak selalu.

EM4 adalah salah satu produk starter yang dapat digunakan dalam metode tertentu, tetapi keberhasilan silase tidak hanya bergantung pada merek starter.

Faktor lain seperti:

  • bahan;
  • kadar air;
  • kandungan gula;
  • kepadatan;
  • kebersihan;
  • dan kondisi anaerob

sangat menentukan.

Dalam beberapa teknologi silase, fermentasi dapat berlangsung dengan memanfaatkan mikroorganisme yang sudah terdapat pada bahan, sementara aditif digunakan untuk membantu proses sesuai kebutuhan.

Jadi jangan membuat kesimpulan:

“Tanpa EM4 pasti gagal.”

Itu tidak tepat.


25. Apakah Molases Wajib?

Tidak juga.

Molases dapat digunakan sebagai sumber gula yang mudah difermentasi pada beberapa metode silase. Kementerian Pertanian mencantumkan molases/tetes sebagai salah satu bahan yang dapat digunakan untuk membantu proses fermentasi.

Namun penggunaannya harus disesuaikan dengan:

  • jenis bahan;
  • kadar gula bahan;
  • kadar air;
  • dan metode fermentasi.

26. Apakah Pakan Fermentasi Membuat Kambing Cepat Gemuk?

Tidak otomatis.

Ini salah satu mitos yang sebaiknya dihindari dalam artikel peternakan.

Pakan fermentasi dapat membantu menyediakan atau mengawetkan bahan pakan, tetapi pertumbuhan kambing tetap bergantung pada keseluruhan ransum dan manajemen.

Kambing membutuhkan nutrisi yang sesuai dengan:

  • bobot;
  • umur;
  • tujuan produksi;
  • kondisi fisiologis;
  • kualitas pakan;
  • dan kesehatan.

Bahkan penelitian pada kambing menunjukkan bahwa respons terhadap bahan segar dan bahan yang difermentasi dapat berbeda, sehingga tidak tepat menganggap fermentasi selalu meningkatkan performa dalam semua situasi.


27. Strategi Terbaik untuk Peternak Pemula

Jika Anda baru pertama kali membuat pakan fermentasi, jangan langsung membuat satu ton.

Gunakan pendekatan:

Batch kecil

Buat 20–50 kg terlebih dahulu.

Amati

Periksa hasil setelah masa fermentasi.

Uji pada jumlah terbatas

Berikan secara bertahap kepada beberapa kambing.

Catat respons

Perhatikan konsumsi dan kondisi ternak.

Evaluasi

Jika hasilnya baik, tingkatkan produksi secara perlahan.

Dengan pendekatan ini, kesalahan tidak akan menyebabkan kerugian dalam jumlah besar.


Kesimpulan

Cara membuat pakan fermentasi untuk kambing pada dasarnya tidak sulit, tetapi ketelitian jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti resep.

Prinsip dasarnya adalah:

bahan berkualitas → cacah → atur kadar air → campur → padatkan → hilangkan udara → tutup rapat → fermentasikan → periksa kualitas → berikan secara bertahap.

Silase dapat membantu peternak menyimpan hijauan dan menyediakan cadangan pakan ketika ketersediaan hijauan segar berkurang. Teknologi ini juga dapat memanfaatkan berbagai bahan pertanian yang sesuai sehingga potensi limbah dapat dikurangi.

Namun, pakan fermentasi bukan solusi ajaib.

Fermentasi yang gagal dapat menghasilkan pakan yang justru tidak layak diberikan.

Karena itu, jangan berkompromi dengan bahan berjamur, bahan busuk, wadah bocor, atau proses yang tidak higienis.

Untuk peternak yang baru belajar, lebih baik membuat batch kecil, mencatat hasil, dan melakukan evaluasi sebelum meningkatkan kapasitas produksi.

Dengan cara tersebut, teknologi pakan fermentasi dapat menjadi bagian dari sistem peternakan kambing yang lebih efisien dan mampu membantu menghadapi masalah ketersediaan hijauan.

Tulisan ini dipublikasikan di Pakan & Nutrisi dan tag , , , , . Tandai permalink.